Kenangan Jalan Manggis
Oleh : Aswary Agansya
Hari ini hari minggu tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, acara perkemahan bakti sosial di resmikan telah selesai. seluruh anggota tim tiap jurusan diharapkan berkemas. Tepat pukul sembilan pagi seluruh peserta perkemahan akan pulang meninggalkan desa yang indah ini. dengan segera mereka membereskan alat – alat perkemahannya dengan antusias sekali.
Satu setengah jam kemudian. Barang-barang telah di naikkan ke dalam truk angkutan. Seluruh mahasiswa berpamitan kepada pak Hasyim selaku kepala desa Rapa Laok Kecamatan Omben itu. rasa harus menyelimuti seluruh masyarakat yang hadir menyaksikan tunas-tunas bangsa yang hendak kembali ke rumah masing – masing.
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melambaikan tangan tanda perpisahan kepada warga sekitarnya, meskipun hanya dua hari di desa Omben itu. namun keakraban pun telah tercipta, rasa persaudaraan dan solidaritas telah terjalin diantara mereka. Angkutan demi angkutan mulai melaju meninggalkan desa yang indah dan sejuk itu. Terakhir honda jazz warna hijau milik Nindi itu melaju pelan meninggalkan desa. Seperti waktu keberangkatan, Zaina, Fauzy serta farid berada di dalam mobil mewah itu. mereka berempat tak langsung pulang melainkan bermaksud mengunjungi seorang teman bernama Zaki Fauroni.
”Eh, siapa yang tau rumah Zaki ?” tanya Nindi, pandangannya tetap terfokus kedepan. Fauzy yang duduk dijok belakang bersama Farid menjawab pertanyaan itu sembari mengacungkan tangan.
“Aku tau, kami sama – sama dari kota Sampang. Apalagi kami dulu teman satu SMA loh…….”
“Oh ya?” sela Zaina memandang Fauzy. Hati Fauzy lumayang berdesir-desir dipandang begitu oleh Zaina.
“Terus alamat Zaki dimana?” tambah Nindi kemudian
“Rumahnya berada di jalan, Manggis No.65 depan lapangan Wijaya Kusuma Sampang. kau tau kan Nin?”
“Iya..iya aku tau. rumahku kan dijalan diponogoro”
“Oh iya Fauzy, kalau rumah kamu dimana? Kapan-kapan main kerumah kamu yuk!!”
“Rumahku?hehehe ada deh….. nanti kalian juga tau…..”
“Hm….. pelit !” jawab Nindi dan Zaina serempak, keduanya melirik kearah pemuda dibelakangnya Farid tersenyum menimpali.
“Eh gimana cerita kegiatan kemarin?” tanya Fauzy mengalihkan pembicaraanya.
“Kegiatan yang mana?” Nindi balik bertanya.
“Itu waktu pembagian sembako, seru nggak?”
“Aduh zy….. kemarin aku sungguh terharu banget.”
“Kok bisa?” Fauzy penasaran.
Ditatapnya gadis yang sedang menyetir itu. lalu bibir Zaina mencoba menceritakan suatu kejadian yang mengharukan kemarin. Rasa haru juga melintas dalam hati Fauzy dan Farid seolah-olah merasakan apa yang dirasakan ibu Nurul itu di saat itu. Sesaat suasana menjadi hening.
Waktu terus berlalu, keempat mahasiswa mengendarai honda jazz hijau itu telah sampai di monumen kota Sampang lalu belok kanan kea rah jalan Bahagia. Setelah itu mereka melintasi terminal kota sampang,
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Terik matahari membuat suasana begitu gerah. Mobil Nindi itu melintasi sisi utara terminal, namun lalu lintas sedikit macet. Banyak orang berkerumun. Bukan hanya Nindi yang kebingungan. Zaina, Fauzy dan Farid juga merasakan hal yang sama. Fauzy mencoba meebuka jendela mobil disisinya. Kebetulan ada seorang lelaki berpaakaian merah tua melintas di samping mobil itu. Fauzy melongokan kepalanya mencoba bertanya kepada lelaki itu.
“Pak, maaf mau tanya, ini kokmacet, memangnya ada apa ya?” sembari menunjuk kearah kerumunan orang.
“Oh itu…. ada penjual gorengan di serempet bus” jawab lelaki itu sembari berlalu. Fauzy kembali memasukkan kepalanya ke dalam mobil.
“Ada apa Zy?” tanya Nindi menoleh kebelakang.
“Entahlah, katanya sih ada pemuda penjual gorengan diserempet bus” jawabnya enteng. Nindi dan Zaina pun mengangguk-anggukan kepalanya pelan. sejenak Fauzy teringat sesuatu, tiba-tiba dia langsung membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa lalu lari menuju arah karamaian orang itu.
“Fauzy! mau kemana kau?” teriak Nindi melongokan kepalanya dari jendela. namun Fauzy tak menghiraukan Nindi.
Fauzy semakin mendekat di kerumunan orang itu. Pemuda itu menyusup diantara puluhan orang-orang dengan susah payah berharap mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ternyata Fauzy bisa juga menembus dari kerumunan para pemuda itu.
Seorang pemuda tergeletak tak sadarkan diri, didekatnya terdapat keranjang yang terbalik dengan beberapa gorengan berhamburan dijalan..
Fauzy memicingkan kedua matanya untuk memperjelas pandangannya. sepertinya ia kenal dengan wajah pemuda yang tergeletak itu. Tiba-tiba Fauzy terperanjat memandang siapa seseorang yang tergeletak itu. Dia kaget tak percaya akan semua itu tatkala yang ia lihat adalah Zaki Fauroni, sahabatnya. Fauzy langsung menghampiri Zaki, ia mencoba mangangkat tubuh Zaki yang tergeletak lemah tangan dan kaki terluka parah dan berdarah.
“Tolongin dong!!! tolongin pak!!! ini teman saya!” teriak Fauzy sekeras-kerasnya minta pertolongan. Ia terus meronta minta tolong. Untung saja beberapa pemuda sudi membantu fauzy mengangkat Zaki.
“Ayo pak tolong angkatkan kemobil hijau itu. Tolong…” tambah Fauzy sembari menunjuk ke arah Honda jazz milik Nindi.
Nindi dan kawan-kawan yang lain pun pada panik melihat fauzy tergesa – gesa menuju kearahnya. Nindi, Zaina serta farid pun keluar dari mobil itu
“Ada apa Zy? Siapa itu?” tanya Farid panik.
“Z…..Za….Zak…Zaki !!” Fauzy tergagap. napasnya tidak teratur.
“Subhanallah…Zaki? Ada apa dengan dia?” tambah farid memegang pundak Fauzy
“Itu……Zak…. Zaki kecelakaan !!”
“Apa?!!!” teriak Nindi, Farid dan Zaina serempak. mata mereka tertuju kepada segerombolan orang yang sedanng membopong seseorang.
“Tolong masukkan kesini pak!”teriak Fauzy mengarahkan, membukakan pintu jok belakang mobil Nindi itu. Zaki yang sedikit sadar itu berencana akan dibawa ke rumah sakit, namun pemuda itu menolak rencana para teman-temannya..
“Ayo kita bawa ke rumah sakit” teriak Nindi sambil menyalakan mesinnya
“Jangan! jangan dibawa kerumah sakit, aku nggak mau merepotkan kalian. Lebih baik bawa saja ke rumah” suara Zaki parau sembari menahan rasa sakitnya.
“Tapi Zak, lukamu harus diobati.lagi pula kami nggak merasa di repotkan tuh.” tambah Nindi
“Biarlah ! nggak usah! Cuma lecet aja kok. sudah bawa pulang saja” bantah Zaki.
“Tapi…..”
“Kalau kalian ingin menolongku, bawalah aku ke rumah. tapi kalau nggak, lebih baik aku….”
“Iya iya. Aku mengerti. Oke deh kami bawa kau langsung ke rumahmu” sela Nindi memotong pembicaraan Zaki. Honda jazz itupun terus melaju dari jalan Imam Ghozali terus ke arah barat. Dan belok kanan di jalan Kramat. Setelah itu, kira – kira satu kilometer mereka belok kanan lagi memasuki kawasan lapangan wijaya kusuma dan belok kiri menuju jalan manggis.
Setelah memasuki jalan manggis, Nindi pun memperlambat laju mobilnya karena memasuki suatu area perkampungan. Zaina yang duduk di sebelah Nindi, teringat akan sesuatu. Pikirannya terus memutar mencoba menerka-nerka sesuatu itu namun tak juga menemukan jawabannya.
“Eh.. kayaknya aku pernah kesini deh.” tapi kapan ya? ucapnya memandang ke arah rumah-rumah warga sekitar.
“Ke sini? Memangnya kapan? ” tanya Nindi agak penasaran.
“Tau, aku lupa tuh, tapi benar deh, sepertinya aku pernah kesini”
“E… e…. didepan blok kiri, disitu rumah Zaki” seru Fauzy tiba-tiba.
Mobil itu diparkir dihalaman rumah yang sangat luas. Zaki berjalan dipapah Farid dan Fauzy menuju pintu rumahnya.
Ibu Latifa berdiri didepan pintu, wanita setengah baya itu terkesiap memandang segerombolan pemuda dan pemudi turun dari sebuah mobil mewah di halaman rumahnya. Betapa terkejutnya ibu Latifa ketika Zaki keluar di bopong para teman-temannya. Kaki Zaki tampak berdarah, Ibu Latifa langsung berlari mendekati anaknya itu. Air matanya langsung berhamburan.
“Ada apa ini ?! kenapa kamu Zaki?! Ada apa?!” tanya ibu Latifa kaget, cemas dengan pikiran kacau tak mengerti. Ia menangis.
“Zaki Cuma lecet biasa kok bu” ucap Zaki mencoba menenangkan ibunya.
“Iya kok bisa begitu?!” tanya ibu latifa lagi sambil merengkuh Zaki. namun tak ada jawaban. Zaki memasuki rumahnya dan dibaringkan dikamarnya. Fauzy dan Farid membantu membaringkan Zaki ditempat tidurnya. ibu latifa pergi kedapurnya untuk mengambil air hangat.
Sementara diluar rumah Zaki tepatnya dihalaman yang luas itu Zaina berdiri terpaku menatap ke segala penjuru arah, ditebarkannya pandangan matanya ke sekelilingnya. Pikirannya berjalan, ia merasa pernah kerumah itu, tetapi ia tidak tau pasti kapan kejadiannya. Pikirannya terus berputar hendak mengingatkan sesuatu tiba-tiba Zaina kaget, Nindi memanggil dan membuyarkan lamunannya.
“Zaina! ngapain kamu berdiri mematung disitu.? buruan sini” teriak Nindi.
“E…I…Iya !!” gadis itu terperanjat dan tergagap. Seketika itu pikirannya bubar, dia berlari menghampiri Nindi.
Didalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu Zaki terbaring lemas diatas tempat tidurnya. Fauzy dan Farid duduk disamping Zaki sedangkan Nindi dan Zaina duduk dikursi yang disediakan oleh ibu Latifa didekat tempat tidur itu.
Ibu Latifa masuk kekamar Zaki membawa sebaskom air hangat serta handuk. wanita setengah baya itu mencoba membasuh dan mengusap luka dibetis Zaki.
“Sini bu, biar saya yang mengerjakan. ibu duduk saja dikursi ini” ucap Zaina menawarkan diri, namun ibu latifa menolak.
“Biar ibu saja nak, ibu tak apa-apa.”lirih ibu Latifa. lalu wanita setengah baya itu kembali memandang wajah Zaki yang sedang manahan rasa sakit. Zaina pun kembali duduk di kursinya.
“Bagaimana ceritanya kok sampai seperti ini Zak? kamu ini ada-ada saja !” tanya ibu Latifa semua teman Zaki menatap ke arahnya, mereka berharap Zaki menceritakan kejadian itu. Terpaksa, dengan tertatih, Zaki mencoba bercerita.
“Wa….. waktu itu aku sedang berkeliling didekat plang lampu merah yang kebetulan bebagai kendaraan sedang berhenti. Aku bermaksud menjajakan gorengan disebuah mini bus, seorang kenek mini bus warna hitam memanggilku hendak membeli pisang goreng dan ubi goreng. aku pun menghampirinya.” Zaki mulai bercerita. Ceritanya terhenti sejenak ketika Nisa, adik Zaki tiba – tiba memasuki kamar Zaki sambil membawa nampan berisi empat gelas teh dingin, dengan menyungging senyum. Nisa memindahkan gelas demi gelas teh dari nampan putih itu ke atas meja dengan pelan dan anggun.
“Diminum dulu tehnya kak” ucap Nisa lalu berbalik dan keluar kamar Zaki..
“Iya deh, terimakasih” sahut Nindi membalas senyuman Nisa yang masih belia. kemudian mereka kembali memandang Zaki. Pemuda yang sedang berbaring itu melanjutkan ceritanya.
“Ketika aku menghampiri, kenek itu meminta dibungkuskan tiga biji pisang goreng dan dua biji ubi goreng. Aku mencoba mengbungkus gorengan sesuai yang diminta, tetapi tiba – tiba setelah bungkusan itu diterimanya, lampu merah berubah warna hijau, kendaraan mulai berangkat satu demi satu”
“Mini bus warna hitam itu juga mulai melaju. Aku kaget melihatnya dan mencoba mengejar mini bus itu sekuat tenaga karena sang kenek belum juga membayar. usahaku mengejar mini bus itu pun sia-sia. Aku merasa sedih dan berdiri mematung ditengah jalan. Selanjutnya dari arah belakang ada mini bus warna merah maron melaju dengan cepat dan akhirnya menyerempetku”
“Aku pun terpelanting kesisi jalan dekat trotoar. tubuhku terguling-guling dan keranjang gorenganku terpental jauh sehingga daganganku berserakan dan aku pun tak sadarkan diri” jelas Zaki dengan meneteskan air mata.
“Maafkan aku ibu, Hari ini kita rugi, gorengan itu jauth berserakan” tambah Zaki seraya memejamkan matanya. Tetes demi tetes air matanya jatuh nenbasahi pipinya.
“Tidak usah kau pikirkan Zak, yang penting sekarang kau selamat” ibu Latifa dengan senyuman. Dielus-elusnya kepala Zaki dan dicium kening puteranya itu penuh kasih sayang. Melihat kejadian itu mata Fauzy, Farid, Zaina dan Nindi mulai berkaca- kaca, bulu kuduk mereka seakan berdiri. Mereka merembeskan air mata dengan rasa haru singgah dibenak mereka.
Sepuluh menit kemudian, Nindi dan Zaina mohon izin untuk pulang disusul oleh Farid dan Fauzy kali ini Farid tidak pulang bersama Nindi, namun pemuda itu mampir kerumah Fauzy dikampung Madegan. Zaina yang disepanjang perjalanan terheran-heran mengingat kejadian dirumah Zaki.
Sesampainya dirumah yang cukup sederhana tepatnya dijalan Veteran no 52 Kota Pamekasan, Zaina menemui bundanya yang sedang duduk disofa ruang tengah. ibu Muzayana yang sedang asyik.menyaksikan acara kesayangannya disalah satu stasiun televisi. Tiba – tiba Zaina menghampiri ibu Muzayana yang sedang duduk asik itu.
“Bunda…” teriak Zaina menghampiri ibu Muzayana. sang bunda pun menoleh ke arah gadis itu. Zaina duduk disamping ibu Muzayana.
“Eh sudah pulang rupanya. Bagaimana acara perkemahannya Zaina?” tukas ibu Muzayana seraya kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi.
“Ah… badanku terasa pegal-pegal nih bunda, seru banget deh bunda. acaranya sungguh bermanfaat bagi kami, Bayangikan saja, aku sampai nangis lantaran terharu melihat salah seorang warga yang kelaparan.
“Oh ya?” sahut ibu Muzayana seakan tak percaya. Zaina terus berantusias menceritakan ceritanya secara runtut. sang bunda pun mengangguk – angguk pelan mendengar cerita anaknya.
“Eh bunda bunda, aku tadi siang merasakan hal yang aneh deh, ketika aku berada disampang“ kata zaina tiba–tiba. Gadis itu semakin mendekat kesisi sang bunda. Ibu Muzayana memandang wajah puterinya dengan rasa penuh kasih sayang.
“Aneh bagaimana ?” tanya ibu Muzayana. Lalu wanita setengah baya itu mengambil remotenya dan memencet tombol merah, mematikan telivisinya. wanita itu kembali memandang kearah zaina.
“Begini bunda, waktu itu aku mau pulang dari desa Omben bersama Nindi, kami hendak mengunjungi rumah teman di Sampang. Setelah melewati terminal, kami menemukan temanku itu dalam keadaan kecelakaan”
“Ya terus bagaimana?”
“Terus temanku itu kami bawa pulang kerumahnya dijalan manggis, kota Sampang, anehnya setelah sampai dirumah temanku itu, aku merasakan hal-hal aneh. aku merasa pernah sampai kejalan manggis itu deh Bunda. tapi entah kenapa aku nggak mengingat kapan kejadiannya kayak dejavu gitu deh bun”
“Hm… jalan manggis dekat lapangan Wijaya Kusuma itu?” ibu muzayanah mencoba bertanya.
“Iya. kok bunda tau sih?”
“Memangnya nomor rumah temen kamu itu berapa ?” tanya ibu Muzayana lagi. Zaina yang duduk di samping sang bunda itu memikirkan sesuatu. Gadis itu mencoba mengingat berapa nomor rumah Zaki. Zaina mengerutkan dahinya sejenak. matanya dilirikkan kesamping, bibir tipisnya dimonyongkan kesamping kiri. Gadis itu mencoba memutar otaknya demi mengingat nomor itu.
“Hm… berapa ya? oh iya aku tau!! Rumah Zaki itu jalan manggis no 65, didepan lapangan wijaya kusuma. ya, aku sudah ingat bunda” ucap Zaina dengan antusias. ibu muzayyana menganggukkan kepalanya. Wanita setengah baya itu menyungging senyum mendengar penuturan anaknya.
“Kok bunda malah tersenyum sih?” Zaina heran melihat wajah sang bundanya.
“Oh… jadi temen kamu namanya Zaki? terus siapa nama orang tua zaki itu? Kamu tau nggak ?”
“Kok bunda malah bertanya begitu sih?kayak wartawan aja. Aneh deh! ibunya Zaki tu bernama ibu Latifa” mendengar nama itu ibu muzayyana semakin tersenyum tipis. Zaina yang sejak tadi kebingungan malah ditambah rasa aneh melihat bundanya.
“Hm…begini Zaina, dulu sewaktu kamu kelas satu sekolah dasar, Ayah ditugaskan dinas di kota Sampang. Ketika itu kami sempat mengontrak rumah dijalan manggis selama dua tahun. Sewaktu kau masih sekolah di SDN Gunung sekar VI, kamu mempunyai seorang sahabat“ kata ibu Muzayana seraya membetulkan letak duduknya.
“Loh bunda malah cerita.? iya, aku tau sahabat keciku itu namanya ijak kan bunda?” tukas Zaina sedikit kesal.
“Tunggu dulu. dengerin cerita bunda dulu dong sayang,” tukas ibu muzayyana.
“Oke-oke.” ucap zaina bersabar.
“Nah betul katamu tadi, nama sahabatmu itu ijak. kamu ingat nggak sewaktu kamu masih kecil dan dipukul bunda karena asyik bermain bersama ijak itu?”
“Aku sedikit lupa tuh bunda, memangnya kenapa?” tanya Zaina sambil melongo.
“Sore itu bunda sibuk mencari-cari kamu. waktu itu bunda cemas sekali karena semenjak pulang sekolah, kamu asyik bermain bersama ijak bunda bingung da khawatir, bunda mencarimu kerumah izak, namun kau tak ada disana, bunda juga mencari kerumah temen kamu yang lain namun tetapsaja kamu tidak ditemukan”
“Bunda kesal sekali, terpaksa bunda pulang hendak menunggumu dirumah saja. Tiba-tiba sesampainya dirumah, ternyata kamu berada diruang tamu sedang asik bermain boneka. Bunda sangat marah sama kamu. Lalu bunda memukulmu. Kamu yang sedang menangis tersedu bertanya apa yang sebenarnya terjadi”
“Bunda terus memukulmu, tiba-tiba ijak datang dan mencoba membelamu. Dia bertanya apa salahmu serta dia mencoba menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi sama bunda. Mendengar penjelasan ijak, bunda tersadar dan segera memandangmu. bunda tak habis pikir kenapa gegabah memukulmu, tak memberimu kesempatan untuk bercerita. Ternyata kamu sedang mengerjakan tugas sekolah dipematang sawah belakang rumah bu Safi. Semenjak kejadian itu bunda tak tega lagi memukulmu Zaina. bunda langsung menciummu dengan penuh rasa sayang” ucap ibu Muzayana mengenang kejadian itu.
“Itu kan kenakalan masa kecilku bunda. Maafkan aku ya bunda” kata Zaina sembari memegang tangan bundanya.
“Kamu tahu siapa ijak itu Zaina? Ijak itu, teman kuliahmu. Ijak teman yang kalian tolong sewaktu kecelakaan diterminal tadi siang”. mendengar ucapan sang bunda, Zaina tercengang. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak sejenak. Gadis itu memandang sang bunda dengan rasa tak percaya. Duduknya semakin mendekat disisi ibu Muzayana.
“Apa bunda? Zaki itu Ijak?” teriak Zaina tak percaya. Ibu muzayyana mengangguk pelan.
Hati Zaina terasa sejuk setelah mengetahui sebenarnya. Gadis itu seakan-akan memperoleh titik-titik kesegaran . Di dalam penantiannya selama ini. Zaina mulai terbayang wajah lugu nan imut si Zaki Fauroni. Angannya melayang-layang tinggi keangkasa. Dia ingin segera kembali menemui pemuda itu.
“Hayo ada apa…?” ibu Muzayyana menepuk tangan Zaina menyadarkan. zaina pun tersentak dari lamunannya yang seketika itupun hilang.
“Loh kok tanganmu panas, kamu nggak apa-apa? sepertinya kamu demam sayang…” kata ibu Muzayana sembari menempelkan tangannya kekening Zaina.
“Nggak kok bunda, aku cuma pegal-pegal aja. Mungkin kecapean aja. oke, aku istirahat dulu ya bunda” sergah Zaina lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sesampainya dikamar, gadis itu mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa letih, tulangnya terasa pegal-pegal di tempat tidurnya.
Namun meski demikian, hatinya terasa berbunga-bunga setelah mendengar kabar dari bundanya bahwa sahabat kecil yang sering ia panggil Ijak itu adalah Zaki Fauroni, Ijak yang telah hilang kini telah kembali.
“Benarkah itu?”
Zaina bangun dan duduk disisi tempat tidur. Dengan tubuh terasa letih dan sedikit demam, gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, diambilnya sebuah buku diary miliknya, dihalaman pertama terpampang sebuah foto yang bergambarkan sepasang anak kecil memakai pakaian adat khas pulau Madura. Sepertinya foto itu diambil ketika mereka sedang mengikuti karnaval. ya, kedua bocah difoto itu adalah Zaki kecil dan Zaina kecil.
Buku diary itupun dibawanya ke tempat tidur, Zaina kembali merebahkan tubuhnya. Dipandangnya foto itu lekat-lekat, tanpa di sengaja wajah Zaki berkelebat di pikiranna, sesosok pemuda yang penuh semangat bekerja keliling terminal menjajakan gorengan demi melanjutkan pendidikannya. Zaki menjalani semua itu dengan tanpa beban. Zaina merasa terharu pada pemuda itu.
Bayangan Zaki terus berkelebat, terus, terus dan terus singah di memori otaknya. tak lama kemudian, gadis itu terlena dalam tidur siangnya.
****