Pesona Madura

Juli 21st, 2010 12:22

Oleh : Aswary Agansya

Ada yang bilang, “buat apa pergi ke Madura? Ada apa sih di pulau itu? Carok? Ah nggak asik, nggak keren!” Banyak yang beranggapan seperti itu. Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya carok itu bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Karena kalangan yang beranggapan bahwa Madura itu identik dengan kekerasan yang berupa carok merupakan hal yang salah, tak seperti yang mereka pikirkan. Marilah kita berpikir positif saja, daripada memikirkan hal yang tak kita ketahui, lebih baik kita memikirkan hal-hal yang dapat memberikan inspirasi supaya tidak perlu segan jika ingin berkunjung ke Pulau itu.

Tahukah anda apa yang sebenarnya masih tersimpan rapi di pulau penghasil garam terbesar itu? Siapa bilang Madura tak memiliki pancaran alam yang dapat menarik hati sang pengunjung? Justru  di pulau yang kecil inilah, yang tak banyak dikenal orang inilah  menyimpan suatu keeksotikan alam yang masih perawan. Jika di gerbang Madura, di kota Bangkalan telah dibangun suatu jembatan yang megah bernama jembatan Suramadu, maka pasca pembangunan itu, pulau yang kecil ini mulai membenahi diri. Mencoba menangkap hal positif dan negatif dari pembangunan jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura itu. Memang Madura tak seterkenal pulau Bali, tapi tak sedikit pula orang Indonesia yang tak pernah mendengar yang namanya pulau garam ini. Maka dengan adanya Suramadu, di ketiga kota lainnya pun mulai memikirkan perkembangan pulau itu.

Kini, kalau anda datang ke Madura, anda akan menemukan keistimewaan yang lebih berbeda. Jika di Bangkalan ada suatu wisata alam yang mana ada sebuah batu menangis, meneteskan air mata yang tiada henti, Di kota Sampang anda akan menemukan wisata gua lebar yang masih belum dijamah oleh manusia-manusia modern, kalau saja di Bali ada sebuah hutan Pala Sangeh yang dihuni banyak kera, maka di Sampang juga ada tempat wisata yang semacam itu yang tak lain dan tak bukan bernama hutan Nepa. Begitu juga jika di kota Pamekasan anda akan menemukan suatu wisata api alam yang apabila tanahnya dicongkel maka akan langsung menyemburkan api. Betapa dahsyatnya misteri alam di desa Dhanka itu.

Nah, dikota yang pling ujung ini, kota Sumenep, anda akan disuguhkan suatu wisata peninggalan keraton Jokotole. Daerahnya pun masih asri dan indah sekali. Sebenarnya beberapa tempat itu hanyalah salah satu dari puluhan tempat wisata yang ada di Madura. Masih banyak lagi tempat yang lain, yang mampu memberikan kesegaran bagi kepenatan badan dan pikiran. Benar-benar suatu anggapan yang salah jika di pulau Madura ini dikatakan tak memiliki ketertarikan dimata  wisatawan. Hanya saja yang perlu anda ketahui, Madura yang kecil dan terkenal dengan budaya kerapan sapinya ini belum banyak di-ekspose oleh media. Satu hal lagi yang anda akan dapatkan kalau datang ke Madura, Anda akan disuguhkan kehidupan masyarakatnyaa yang masih kental akan kebudayaannya, agama dan kebersaudaraan antar sesamanya yang masih belum tersentuh dengan budaya barat yang katanya menjunjung kebebasan. Dsni, di pulau kecil tapi eksotis ini tak kalah dengan pulau-pulau lain di Indonesia.

So, let’s go to Madura baiby…

Rindu Kangen Bali

Mei 17th, 2010 09:42

Apa yang akan terlintas di benakmu ketika mendengar kata Bali?

Hm…pasti yang kau bayangkan adalah betapa indahnya pantai Kuta yang sangat tersohor di dunia itu. Atau kau akan membayangkan suatu pemandangan alam yang sangat indah bak di Surga? Atau malah bayangan wajah ayu sang penari-penari asal Pulau Dewata yang anggun itu? Ya! ya! ya! Pasti jawabannya akan bermacam-macam.

Mungkin tak akan jauh berbeda jika pertanyaan itu ditanyakan padaku. Hm…Mendengar kata Bali saja, memori otakku ini secara otomatis akan memutar suatu kejadian dua tahun silam ketika Bulan April 2008. Dimana, kala itu aku sedang gembiranya menyaksikan keindahan Bali dari sisi pantai Kuta, Pantai Sanur, Puncak Gunung Batur Kintamani dan dari sisi Pura Luhur Tanah Lot.

Sontak, Aku teringat ketika duduk sendu menyaksikan sang surya yang bersiap diri menuju tempat peraduannya. Kutatap Lukisan alam di arah barat itu seraya duduk menekuk lutut di atas lembutnya pasir putih sekitar pantai. Kedua mataku ini seakan tak mampu berkedip saat menatap penuh takjub meneliti sapuan garis-garis kuas lukisan berwarna jingga, kuning dan abu-abu itu.

Ditengah keseriusanku menatap sang surya, sengaja kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke arah kiri. Sekilas aku tersenyum simpul karena ternyata bukan hanya aku saja yang terpesona dengan indahnya panorama Matahari tenggelam. Ternyata para wisatawan lokal maupun Mancanegara juga merasakan hal serupa. Dengan begitu, kembali ku menatap pemandangan itu sampai sang surya benar-benar telah bersembunyi di ufuk barat sana. Aku sungguh bahagia dapat dengan leluasa dan sempurna menyantap panorama itu tanpa halangan sedikitpun.

Tak hanya pantai Kuta yang membuatku takjub. Suasana yang berbeda juga aku rasakan ketika berkunjung ke Tabanan. Tepatnya di Objek Wisata Tanah Lot. Aku masih ingat betul ketika aku membeli tiket masuk. Begitu memasuki lokasi pura luhur Tanah Lot dan pura Batu Bolong. Wuah…..Dahsyat banget….! Aku benar-benar tersihir dengan indahnya tatanan alam itu. Perasaan hatiku seakan terganggu. seketika itu pula aku bungkam tak bisa menjelaskan dengan kata-kata betapa indahnya tempat itu. Berkali-kali aku melirik ke kanan dan melirik lagi ke kiri. semuanya sama-sama menggairahkan!

Tapi, yang kurasakan itu adalah hanya kejadian dua tahun yang lalu. Aku hanya bisa menyimpan dan mengingat kenangan indah itu. Dalam diam aku berharap semoga suatu saat nanti, entah kapan itu, aku dapat kembali mengunjungi pulau Indah nan Eksotis itu. Aku sungguh berharap bisa menghirup lagi aroma-aroma surga dunia di Pulau seribu Pura tersebut. Maka dari itu, aku berharap akan doamu teman, supaya aku dapat mengunjungi Bali lagi.

Doakan aku ya….Amin….!!!

Getar Hatiku, Ibu.

Mei 7th, 2010 20:16

Ibuku yang kucinta dan kusayang. Sayangilah anakmu ini dengan penuh kasih. Jangan sampai kasih sayang itu sirna dan memudar. Aku rasa masih haus kasih sayangmu ibu. Oh… betapa bahagianya aku memiliki ibu sepertimu. Betapa bangganya aku mempunyai sosok perempuan sepertimu wahai ibuku.

Sungguh dalam lubuk hatiku yang paling dalam ini, kadang aku berpikir bahwa aku takut akan kehilangan sesosok muara kasih sepertimu ibu. Ku tak ingin ditinggalkan orang yang kusayang untuk yang kesekian kalinya.

Dua belas tahun lalu, aku telah sepi merana karena ditinggalkan ayah.  Selama itu pula aku rindu akan sosok pria yang tak kalah sayangnya padaku. Aku benar-benar rindu akan dongeng-dongengnya, nasehat-nasehatnya yang membangun dan rindu pula dengan pancaran sinar bola matanya yang penuh dengan harapan.

Oh ibu. Sampai saat ini aku masih belum bisa membalas jasa-jasamu. Jerih payahmu membesarkanku. Engkau sangat gagah dan tangguh sebagai seorang perempuan yang beranjak usia senja. aku benar-benar binggung harus bagaimana bisa membalas semua yang kau berikan padaku Ibu.

Setiap malam aku titikkan air mata. Kutengadahkan kedua tangan ini mengemis kepada sang Pencipta, Sang Penguasa Jagad. Ku amat sangat bangga padamu Ibu. sampai-sampai tak ada lagi kata-kata yang mampu ku keluarkan dari mulutku ini. Satu hal yang ingin kau sampaikan padamu ibu. Terima kasih. Semoga Allah memberikanmu suatu ketenangan hati, memberimu berkah. Sekali lagi ku ucapkan bahwa Alhamdulillah Wa syukurillah punya ibu sepertimu. Kau akan terus dihatiku wahai Ibuku.

I love You Mom….!

Landa Hati

Mei 4th, 2010 20:10

Entah mengapa setiap masalah demi masalah selalu menimpaku. Aku tidak pernah bisa menebak bagaimana takdir Tuhan kepada kehidupanku. Berhari-hari datang silih berganti melandaku dan Ibu. aku sangat bingung harus berbuat apa dan bagaimana.  Alangkah sedihnya diriku ini jikalau harus meresapi setiap rentetan sandiwara masalah yang semakin mendera. Oh…betapa dilemanya diri ini. Antara pasrah atau malah harus rela melawan.

Adakah jalan keluar diantara masalah yang datang ini?

Adakah Hikmah dibalik itu?

Adakah suatu kebahagiaan yang akan meluap di suatu hari nanti?

Apa juga ada suatu hal yang sangat tak terduga olehku dan ibu kelak?

Sungguh aku tak tahu dan tak mampu menerka-nerka rahasia itu.

Penasaran?

April 23rd, 2010 10:09

Penasaran ingin tahu kisah selanjutnya mengenai Zaki dan  para sahabat-sahabatnya?masih ada sepulauh bab lagi loh…

Pasti kamu-kamu pada penasaran ending cerinya kayak gimana? Sekedar informasi, Ending cerita Novel “Angan Cinta” ini sangatlah mengejutkan dan mengharukan. Insyaallah kau akan meneteskan air mata karenanya. Maka dari itu, tolong doakan penulis untuk bisa segera mengirim naskah Novel “Angan Cinta” tersebut kepada penerbit…Amin…!!

Oke?????

Salam Persahabatan dari Aswary Agansya

Puisi : Malam Akhir Desember

April 13th, 2010 19:43
Oleh : Aswary Agansya

Detik-detik terakhir malam Desember
Termenung sendiri
Menyapa angin
Menyapa bintang
Menyapa bulan
Dan menyapa malam

Tengah sunyi mencekam
Kuberkaca di masa silam
Macam roda hidup berputar
Berjalan, merangkak hinggak tak ada bekas
Tak ada yang tahu

Hati berdentum dan bergetar
Hembusan rasa penuhi kalbu
Sesal, ragu dan maju
Harapan baru berbisik sendu
Membentang luas menunggu langkahku

Sampang, desember 2009

Chapter 10: Kenangan Masa Silam

April 12th, 2010 10:20

Kenangan Masa Silam

Oleh : Aswary Agansya

Kicauan burung saling bersahut-sahutan membuat pagi ini sungguh begitu berwarna. Malam pun telah pudar di telan pelan-pelan oleh siang seiring munculnya matahari di ufuk timur. Aroma embun pagi menyeruak menusuk ke hidung. Siulan merdu keluar dari mulut Pak Hadinarta diiringi mengemas barang-barang yang dipindahkannya ke dalam mobil.

Tepat pukul tujuh pagi, keluarga Pak Hadinarta yang tak lain dan tak bukan adalah ibu Naya dan sang puteri bungsunya Nindi Librania, sibuk berkemas mengangkut barang-barang ke dalam mobil Honda Jazz warna hijau kesayangannnya.

Dua buah koper dimasukkan ke bagasi belakang. Lalu mereka bertiga langsung memasuki mobil itu. Pak Hadinarta duduk di depan selaku pengemudi di dampingi ibu Naya di samping kirinya. Nindi begitu cerianya duduk di belakang. Ya, di pagi yang cerah ini satu keluarga itu hendak mengunjungi saudara ibu Naya yang berada di kota Jombang.

Di sepanjang perjalanan, Nindi berdendang seirama dengan lagu-lagu yang didengarnya melalui ear phone i-podnya. Bibirnya komat-kamit meniru lagu-lagu yang didengar disertai gelengan kepalanya. Pandangan matanya merekam panorama alam di luar. Hamparan sawah-sawah yang ditanami jagung tampak menghijau luas sekali. Terlihat gunung-gunung yang tak lagi aktif. Langit biru dengan sapuan awan putih begitu menawan berjalan beriringan. Dari dalam mobil tampak suatu lukisan yang sangat indah.

“Ck..ck..ck.. ternyata Madura ini begitu mempesona…..” gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba HP kesayangannya berbunyi. Dengan segera dipencetnya tombol hijau.

“Haloo…..” ucap Nindi sembari mematikan ipodnya

“Halo…. Nindi …. kenapa kau belum datang ke kampus?” tanya seseorang dari seberang sana. Ternyata panggilan itu dari Zaina.

“Aduh sayang…… maaf ya, aku lupa banget untuk memberitahumu. Sekarang aku nggak bisa masuk kuliah karena pergi ke Jombang”

“Ke Jombang? Mau ngapain?” Zaina sedikit heran.

“Wah… aku mau shopping dong … he.. he… he…. nggak… nggak.. kok. Aku sekeluarga ke Jombang untuk mengunjungi tanteku yang melahirkan. Sekalian deh aku ikut ayah check up ke dokter mata di Surabaya”

“Oh begitu… jadi kamu pulang kapan, Nin?”

“Paling lusa juga udah pulang, Zai, hhmmm… by the way kamu lagi ngapain disitu?” Nindi seraya menyandarkan tubuhnya.

“Aku lagi di perpustakaan Nin,”

“Oke deh kalau begitu….. Sorry ya manisku…”

“Iya….iya.. jangan lupa oleh-olehnya, Nin… bye!” klik!! panggilan itupun berakhir. Nindi kembali menyalakan ipodnya dan meletakkan handphonenya di dalam tas cangklong miliknya. Ibu Naya menoleh ke belakang memandang Nindi.

“Dari, siapa Nin?”, tanya ibu Naya kemudian

“Nggak kok ma, cuma dari Zaina”, sahut gadis itu sembari melanjutkan mendengarkan musik.

☺☻

Sementara itu, di perpustakaan kampus Universitas Madura yang bersebelahan dengan bash camp mahapala itu, seorang Zaki sedang asyik membolak-balik buku dan serius membaca. Di sebuah meja panjang yang dikelilingi kursi-kursi, Zaki Fauroni menatap dua buku yang tengah terbuka. Kedua bola matanya tampak serius memelototi tulisan demi tulisan tiap buku tebal itu. Zaki mencoba menerawang sebuah puisi karangan Chairil Anwar yang berjudul kenangan. Dengan seksama pemuda itu membaca dalam hati.

Kadang

Di antara jeriji itu-itu saja

Mereksmi memberi warna

Benda usang di lupa

Ah ! tersebar rasanya diri

Membubung tinggi atas kini

Sejenak saja,

Halus rapuh ini jalinan kenang

Hancur hilang belum di pegang

Terhentak

Kembali di itu-itu saja

Jiwa bertanya : dari buah

Hidupkan banyakan hatuh ke tanah?

Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

Dia mencoba mencerna isi dari puisi tersebut belum sempat mencerna lebih jauh, tiba-tiba Zaki tersentak kaget tatkala pundaknya ditepuk seseorang.

“Hai…. Zak… “ ucap Zaina lalu duduk di dekat Zaki. Zaki menutup buku berwarna abu-abu sajak Khairil Anwar itu.

“Lagi ngapain, Zak..?” tanya Zaina sembari meletakkan tasnya di atas meja

“Aku lagi asik membaca sajak-sajaknya Khairil Anwar Zai,” sahut Zaki sembari memperlihatkan buku itu kepada Zaina. Zaina hanya membolak-balik buku itu sejenak lalu kembali meletakkannya di atas tumpukan buku-buku Zaki yang lain.

“Kau mau kemana? mau mencari buku apa, Zaina?”

“Nggak kok, aku cuma mau memperpanjang masa pinjaman buku yang kupinjam seminggu yang lalu” jawab Zaina lalu gadis itu menggigit bibir bawahnya. Zaki memalingkan pandangannya mengarah meja.

“Loh…. mana Nindi? Biasanya kalian berdua selalu bersama khan?”

“Nindi sekarang nggak masuk kuliah, dia ikut ayah dan ibunya ke luar kota. So, aku sendiri deh jadinya. Hmm.. by the way.. kamu masih ada kuliah?”

Zaki sejenak melihat jam tangannya.

“Tiga puluh menit lagi aku ada presentasi, ada apa?”

“Zak, aku ingin tahu cerita kau selama ini. Aku ingin tau kabar kak Rofiq, kehidupan keluargamu selama aku pindah ke Kota Pamekasan”.

Mendengar permintaan Zaina, Zaki membetulkan posisi duduknya, kembali ia memutar memori otaknya mencoba membuka kenangan-kenangan masa silam.

“Ketika itu kurang lebih empat belas tahun yang lalu, ketika kamu pindah ke kota Pamekasan, aku seakan kehilangan salah satu sahabatku. Tak ada lagi teman bermainku yang sebaik kamu Laily Zaina. Namun, setahun kemudian aku mempunyai seorang adik perempuan bernama Nisa. Ya itulah keadaanku setelah kepergianmu ke Pamekasan. Kucurahkan kesepianku dengan bermain bersama Nisa, waktu pun terus berlalu, tahun silih berganti. Kakakku Rofiq Heriansyah menjadi seorang TNI Angkatan Darat. Tiba-tiba  ketika aku kelas tiga SMA ayahku meninggal dunia akibat serangan jantung. Nah semenjak peristiwa itu, selama ini kak Rofiq tidak pernah pulang ke rumah. Entah kemana dan dimana aku tidak mengetahui rimbanya. Kak Rofiq bagaikan ditelan bumi” jelas Zaki sembari memandang ke depan menerawang entah kemana. Bayang-bayang itu begitu jelas di otak Zaki. Titik-titik air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Zaina hanya mendengar cerita Zaki dengan seksama dan penuh haru. Dielusnya pundak Zaki pelan-pelan.

“Lantas, bagaimana ceritanya sehingga kau menjual gorengan segala?” tanya Zaina lagi. Zaki melanjutkan ceritanya.

“Sejak kepergian ayah, penghasilan ibu menurun, untung saja ibu masih mempunyai beberapa perhiasan dan dijual untuk modal buka toko kecil-kecilan. Aku pun semakin bersemangat ingin membantu pekerjaan ibu. Kali ini selain menjual gorengan aku mengajar les para anak tetangga. Yan lumayanlah bisa menabung untuk melanjutkan pendidikan sampai sekarang, inilah kehidupanku saat ini Zaina.” tambah Zaki lirih. Air matanya menetes meratapi kisah hidupnya hingga membasahi pipinya. Zaina hanya diam melihatnya. Gadis itu juga tak kuasa menahan rasa harunya. Zaina juga terlarut dalam kenangan masa silam Zaki. Zaina benar-benar merasa sembilu mendengar cerita Zaki. Ia seolah merasakan kepedihan yang dialami keluarga Zaki. Sejenak Zaki memejamkan matanya beberapa saat mencoba mengubur semua kenangan itu. Keheningan mulai terasa. Tiba-tiba handphone Zaina berdering. Dengan segera ia mengambil telepone selulernya itu dari dalam tas.

“Ya, ada apa Jamila?”

“Ya, aku ada di perpustakaan, nih. Oke…oke… aku segera kesana” ucapnya sembari memutuskan perbincangan via telepon.

“Zak, maaf ya, aku ke ruang aula karena ada rapat, sekali lagi maaf, bukan aku mau mengungkit-ungkit masa lalumu. Kuharap kamu bersabar akan semua masalahmu” ucap Zaina sembari mulai berdiri, Zaki mengusap air matanya diiringi senyuman.

“Ya, nggak masalah kok Zaina” kata Zaki.

Gadis itu berjalan menuju aula utama di lantai tiga. Sepanjang perjalanan menuju aula tersebut, pikiran Zaina tertuju pada sosok pemuda bernama Zaki. Cerita pemuda itu masih terngiang dalam pikirannya. Gadis itu berjalan dengan memegang buku yang ditempelkan ke dadanya. Rambut panjangnya tersibakr oleh angin.

“Aku nggak menyangka kau dan keluargamu mengalami penderitaan yang begitu besar Zaki, terlebih setelah ayahmu meninggal” gumam gadis itu dalam hati.  Hatinya begitu terharu, seakan-akan dia merasakan suatu penderitaan yang dialami oleh orang yang diam-diam  telah disukainya itu.

☺☻

Rofiq Heriansyah….

Sejuta kasih sayang dan harapan sang ayah

Sejut cinta dan pengorbanan sang ibu

Tak henti-hentinya dicurahkan padamu

Kau bagaikan anugerahkan pertama yang tiada tara bagi mereka

Rofiq Heriansyah….

Kau separuh nafas ibu

Darah keduanya yang murni mengalir di sekujur tubuhmu

Kebahagiaanmu adalah perjuangannya

Hasil keringat ayah dan ibu adalah asupan gizimu

Rofiq Heriansyah …..

Perjuangan ayah dan ibu yang begitu besar

T’lah kau balas dengan kepergian

Air mata terus mengalir dari pelupuk sang muara kasihku

Tidakkah kau merasakan kepiluan hati kecilnya

Yang acap kali berharap akan kepedulianmu, belaian tanganmu, kecupan bibirmu

Rofiq Heriansyah…

Dimana ragamu kini, dimana jasadmu kini, dimana letak persembunyianmu?

Di hatiku terdapat segumpal kekecewaan yang mendalam kepadamu

terdapat sebongkah kebencian yang dihiasi rasa dendam akan dirimu.

jauh dalam lubuk hatiku, terkadang aku merindukan kedatanganmu terkadang pula beribu benci dan kecewa merasuki tubuhku.

Rofiq Heriansyah ……

Mengapa kau pergi meninggalkan kami?

Apakah kau bosan pada kami?

Sungguh kecewa ….

Rasa tak berdaya …

Dendam membara ….

Rindu melanglang buana….

Semua bercampur dalam dada

Setelah Zaina beranjak dari tempat duduknya, Zaki tetap duduk di ruang baca perpustakaan kampus Universitas Madura. Pandangan matanya tertuju pada dua tumpukan buku tebal di depannya. Kedua tangannya dilipat diatas meja. Pikirannya kalut, teringat akan kakak tersayangnya yang diam-diam menghilang. Kenangan masa kecil begitu terngiang-ngiang di depan matanya.

Dua belas tahun lalu ketika seorang Rofiq Heriansyah masih remaja, ia selalu menyayangi adiknya yang bernama Zaki. Hampir setiap saat Rofiq dengan cerianya mengajak bermain bola, bermain layang-layang dan terkadang bermain petak umpet. Masa itu begitu seru. Pernah suatu sore ketika Rofiq dan Zaki sedang bermain sepak  bola di depan rumah. Zaki berkejar kejaran berebut bola dengan Rofiq. Kedua kakak beradik itu sangat gembira sekali. Sang ayah, pak Slamet hanya duduk di kursi teras menyaksikan kedua anaknya yang sedang asyik bermain bola. Tetapi, secara tiba-tiba, Zaki dan Rofiq melihat segerombolan teman-temannya yang sedang berlarian mengejar layang-layang putus. Zaki kecil langsung memandang ke atas mencari layang-layang yang terputus.

Dengan segera Rofiq berlari bersaing mengejar layang-layang itu bersama teman-teman yang lahir. Zaki yang waktu masih berumur sembilan tahun dengan lincahnya ikutserta kakanya mengejar layang-layang yang putus itu. Rofiq berlari kencang tak mempedulikan teman-temannya yang lain. Layangan berwarna merah putih itu mulai turun. Rofiq menjulurkan kedua tangannya mencoba menangkap layang-layang itu, Zaki termasuk teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama.

Saking asyiknya berloncat-loncat mencoba menangkap layangan itu, tiba-tiba kaki Zaki terkilir dan akhirnya jatuh. Dengan tidak sengaja para teman-temannya yang lain menginjak-injak Zaki. Zaki berteriak histeris. Suaranya membahana. Ia menangis kesakitan. Membuat, Rofiq tersadar dan panik.

Setelah itu, Rofiq dimarahi oleh ayahnya.

“Bagaimana kau ini, Rofiq? Punya adik kok tidak dijaga. Malah memikirkan diri sendiri. Memangnya apa untungnya berebut layangan itu? Apa kamu tidak pernah bermain layang-layang, hah?” bentak sang ayah pada Rofiq, Rofiq yang duduk di kursi hanya bisa menunduk takut, kedua matanya meneteskan air mata tanda penyesalan.

“Sudahlah, pak….. namanya juga anak laki-laki. Wajarlah pak”, ucap ibu Latifa mencoba menenangkan suaminya.

Semenjak kejadian itu, kasih sayang Rofiq begitu besar kepada Zaki. Zaki selalu diajaknya bermain dan menjaganya. Adiknya itu selalu dilindunginya.

Mengingat kejadian itu, Zaki meneteskan air mata. Kenangan indah masa silam begitu jelas terlihat dalam pikirannya. Kenangan itu membuatnya rindu akan sosok kakak yang begitu gagah yang bersedia menjaganya. Namun rasa rindu itu seakan sirna seiring berjalannya waktu.

****

Puisi : Mega Dan Nur

April 8th, 2010 11:08

Oleh : Aswary Agansya

Entah apa mengapa

Mega pergi, Nur datang

Hitam pergi, putih datang

Awan pergi, cahaya pun datang

Ke Malaysia, dari Sampang

Entah apa mengapa

Nur pergi, Mega pergi

Putih pergi, hitam pergi

Cahaya pergi, awan pun pergi

Ke Jakarta, ke Malaysia

Gundah gulana, semi membara

Entah apa mengapa

Nur datang, Mega juga datang

Cahaya datang, awan pun datang

Dari Jakarta, dari Malaysia

Ke Sampang Madura

Gembira ada, dilema melanda

Sampang-Madura, 4 Maret 2010

Chapter 9 : Tatap Muka Farid Dan Rima

April 8th, 2010 10:57

Tatap Muka Farid Dan Rima

Oleh : Aswary Agansya

Empat hari kemudian, kegiatan kuliah telah aktif kembali. Seluruh mahasiswa dengan semangatnya kembali masuk kuliah. Semenjak acara perkemahan bakti sosisl itu memang ada beberapa hari masa libur bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Siang itu sepulang dari kuliah, Rima sedang duduk di perpustakaan pesantren. Gadis cantik dengan balutan kerudung putih itu tampak serius menatap buku di depannya. Rupanya Rima sedang asyik membaca. Bola matanya yang indah tampak bergerak ke kanan dan ke kiri menangkap kata demi kata dari buku itu. Tanpa sengaja Rima terkesiap ketika ustadzah Halima berada di sampingnya.

“Assalamu’alaikum” sapa ustadzah Halima yang kemudian mengambil tempat di sisi Rima. Rima menoleh ke arah samping, memandang  sesosok perempuan itu sembari menjawab salam.

“Waalaikumsalam ustadz”

“Rima, tadi pagi ibumu meneleponku, beliau berpesan supaya jumat depan kamu di izinkan pulang ke Bangkalan barang beberapa hari saja.” Tukas ustadzah Halima.

“Oh ya? Sebelumnya terima kasih ustad telah menyampaikannya pada saya. Hm…kira-kira ada keperluan apa ya ustadz kok ibu menyuruh saya pulang ke Bangkalan? Bukankah jumat depan bukan hari libur?”  heran Rima sembari memandang wajah bersih sang ustadz.

“Entahlah Rima, mungkin saja ibumu rindu akan dirimu. Kau khan anak satu-satunya mereka?”

“Mungkin juga ya ustadz. Tapi, apakah ustadz mengizinkan saya mengunjungi ibu?” tanya Rima mencoba memastikan. Ustadzah Halima pun mengangguk pelan sembari menyungging senyuman ke arah Rima. Rima juga membalas senyuman ustadzah Halima sambil mengucapkan terima kasih.

“Baiklah, lanjutkan membacanya Rima, ustadz keluar dulu ya” seru ustadzah Halima lalu berdiri dari duduknya.

Setelah beranjak dari duduknya, ustadzah Halima keluar dari ruang perpustakaan menuju kantor. Kemudian Rima meletakkan kembali buku ke deretan buku-buku yang lain di rak semula. Sejenak Rima mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Terlihat para santriwati yang lain sedang asyik membaca buku. Pemandangan di dalam perpustakaan pesantren itu tampak sejuk dan sunyi. Meski ruangannya tak begitu besar, namun suasana yang terasa begitu nyaman dan damai. Lalu gadis berkerudung putih itu pun kembali mencari buku-buku yang lain.

Hari Jumat itu pun telah tiba. Tepat pada pukul sepuluh pagi, Rima berangkat mengunjungi kedua orang tuanya di Kota Bangkalan. Kota Bangkalan itu merupakan pintu gerbang pulau madura yang tak kalah indahnya dengan ketiga kabupaten yang lain. Untuk menuju rumah ibunya, Rima membutuhkan waktu dua setengah jam perjalanan. Sesampainya di rumah ibu Yuyun yang terletak di jalan Letnan Sunarto, Rima duduk di ruang tamu di dampingi kedua orang tuanya. Rasa rindu yang mendalam di hati bu Yuyun telah terobati dengan kehadiran sang buah hati. Rima yang duduk di sofa berwarna coklat, bersebelahan dengan sang ibunda merasakan hal yang sama.

“Alhamdulillah ahkirnya kau datang juga Rim, ibu rindu sekali sama kamu” ucap ibu Yuyun sembari memegang tangan putri satu-satunya itu

“Aku juga rindu sama ibu dan bapak” tukas Rima memeluk ibu yuyun

“Bagaimana dengan kegiatanmu dipesantren? bagaimana pula dengan kuliahmu rima ?”

“Alhamdulillah semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan lancar bu. Oh ya ada salam dari ustadzah Halima” ibu Yuyun tersenyum memandang wajah Rima.

“Sampaikan juga salam balik ibu. Hmmm tau nggak rim, ayahmu ini sampai sakit segala loh saking rindunya sama kamu” tukas ibu yuyun seraya melirik suaminya, pak Tiksan pun tersipu malu mendengar ucapan ibu yuyun.

“Nah karena sekarang aku sudah datang, pasti kerinduan bapak telah terobati ya kan pak?” Rima memeluk sang ayah dengan erat.

“Oh iya, ayo kita kedapur Rim ! kau bantu ibu memasak sesuatu” ajak ibu yuyun sembari beanjak dari duduknya. Rima menyusul ibunya kedapur.

“Kok bahan-bahan masakannya banyak sekali bu, memang buat apa ?”

“Nanti sore kita akan kedatangan sahabat lama ibu dan bapakmu. Sahabat ibu dimasa remaja dulu” jawab ibu yuyun pelan.

“Wah nostalgia nih ceritanya bu?” ibu mengangguk

“Loh sahabat ibu dan bapak itu dari mana ?”.tambah rima.

“Mereka tinggal di Sumenep, ibu dan bapak dulu pernah tinggal disana. Namun, setelah mau nikah dengan bapakmu ini ibu pindah ke Bangkalan” jelas ibu yuyun

“Hmmm begitu…? sepertinya aku nggak tau deh bu,”

“Jelas kau tidak ingat, terakhir ketemu sih ketika kau berusia tujuh tahun. Ketika kau baru masuk pesantren. Jadi, pasti kau sudah lupa” Rima hanya mengangguk-angguk pelan.

Siang hari telah berganti sore. Matahari mulai merangkak keufuk barat. Rumah ibu Yuyun tampak sibuk menyiapkan makanan. Wanita setengah baya itu akan kedatangan tamu istimewa yang selama ini di tunggu-tunggu. Seorang teman lama sewaktu masa-masa muda dulu. Sesekali ibu Yuyun memandang ke arah jam di dindingnya. Wanita itu semakin tak sabar akan kedatangan sahabatnya yang bernama Marmi Hartati tersebut.

“Bu, kue lapisnya mau di letakkan dimana? “ teriak Rima dari arah dapur. Ibu Yuyun menghampiri Rima.

“Letakkan saja di meja dapur. Keluarkan nanti saja buat makanan penutup” sahut ibu Yuyun lalu pergi ke kamarnya untuk ganti baju.

Tepat pukul tiga lewat lima belas sore, keluarga ibu Marmi Hartati tiba di rumah Ibu Yuyun. Mereka di sambut dengan aramah oleh ibu Yuyun dan suaminya. Lalu semuanya di persilahkan duduk di ruang tamu.

“Aduh Yun, bagaimana kabarnya?” tanya ibu Marmi sembari tersenyum.

“Alhamdulillah baik”

“Oh iya Yun, dari tadi kok kami tidak melihat puterimu itu? Apakah dia belum pulang dari pesantren?” sela ibu Marmi sembari menebarkan pandangan ke arah sekitarnya.

“Rima ada didapur. Sebentar lagi dia pasti juga kesini. Oh iya ini yang namanya Farid Firdaus ? sudah besar rupanya, ternyata dia tampan sekali” puji ibu Yuyun memandang pemuda dihadapannya. Ibu Marmi tersenyum menimpali ucapan ibu Yuyun. Begitu juga pemuda yang duduk di samping ibu Marmi.

Semuanya pun tersenyum. Tiba-tiba pandangan ibu marmi dan suaminya itu terdiam tatkala seorang gadis bewajah manis berkerudung warna birumembawa nampan berisi beberapa gelas teh dingin. Rima yang sejak tadi hanya menunduk membagikan gelas demi gelas kepada para tamu spesial ibunya itu. Farid yang duduk di dekat ibu Marmi itu tersentak melihat wajah gadis di hadapannya. Seketika itu jantungnya berdetak hebat diikuti dengan kata-kata kaget tak percaya,

“Loh, kau Rima khan? Rima Devianti?” ucap Farid dengan dada bergetar hebat.

Rima seketika itu mendongakkan kepalanyadan memandang ke arah suara berasal. Mata Rima seakan hampir keluar dari kelopak matanya saking kagetnya.

“Farid !!? kamu kok ada di sini?”seru Rima tak percaya. Kedua mata Rima dan Farid sama-sama terbelalak. Farid menunduk tak kuasa menatap wajah Rima yang menawan dengan balutan kerudung birunya itu.

“Loh, kalian kok sama-sama kaget begitu ?” sela ibu Marmi menatap keduanya tak mengerti.. Rima dan Farid hanya terdiam. Mereka seakan tak percaya atas semua ini. Pikiran merekapun seakan kacau antara percaya dan tidak percaya.

Ibu Yuyun dan ibu Marmi semakin bingung melihat sorot mata putra putrinya yang berbeda itu.

“Hei… kalian berdua kok salah tingkah begitu sih ? ada apa?” ucapan ibu Yuyun membuyarkan lamunan Farid dan Rima.

“Hmm… kami satu kampus bu” jawab Rima dengan suara datar.

“Apa !!” semua terkejut mendengar penuturan Rima.

“Berarti kalian berdua sudah saling kenal ya… ?” kata ibu Marmi

“Bukan hanya kenal yah, bahkan kami satu kelas. Betul kan Farid ?” sahut Rima. Farid hanya mengangguk pelan mengiyakan.

Kedua keluarga itu akhirnya berbincang-bincang. Menceritan masa lalu beserta kenangan-kenangan masa silam itu mereka ceritakan kembali kepada Rima dan Farid.

Irama keceriaaan terpancar diruang tamu itu. Tawa dan canda mereka terus meluap. Pembicaraaan keluarga itu pun mulai mengarah pada hal yang  lebih  serius.

“Hmm… ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana kita ibu Yuyun ?” tanya ibu Marmi sembari mengangkat secangkir teh diatas meja didepannya. Kemudian iapun menyeruput teh itu

“Ya… jadilah bu…. bagaimana dengan Farid sendiri ? apakah dia bersedia?” ibu Yuyun sambil melirik Farid yang sejak tadi hanya menunduk tersipu malu.

“Insyaallah mau bu” sela ayah Farid sembari menepuk pelan pundak putranya itu.

“Rencana apa sih bu ?” Rima mencoba bertanya pada ibunya. Sejenak ibu Yuyun dan ibu Marmi saling pandang dan sama-sama menyungging senyum mendengar pertanyaan Rima.

“Begini Rima, ibu dan ibu Marmi ini berencana menjodohkan kamu dengan Farid Firdaus yang ada didepanmu ini. Kami pikir karena kami sama-sama memiliki putera tunggal, kami sungguh yakin, insyaallah kalian berdua akan bahagia kelak seperti yang kami rencanakan. Bukankah Farid pemuda yang sholeh dan kau gadis yang sholehah?” kata ibu Yuyun menjelaskan. Mendengar kata-kata sang ibu, hati Rimapun bagaikan dilempar batu besar. Jantungnya pun seakan berhenti berdetak mendengar penuturan itu. Dia tidak menyangka bahwa kejadiannya akan seperti ini. Rimapun bungkam tanpa kata. Hatinya masih tak berdaya atas renana ayah dan ibunya itu.

Disisi lain, Farid terkejut sekaligus bahagia, rasa cintanya pada gadis pesantren bernama Rima Devianti itu ternyata tidak sia-sia. Rasa didalam hatinya itu seakan bersemi setelah disirami dan dipupuk penuh kasih, raut mukanya benar-benar berbinar mendengar penuturan ibu Yuyun atas rencana menjodohkannya dengan Rima.

“Ya Tuhan… semoga Rima menerima rasa yang ada dalam hatiku selama ini. Inikah yang dinamakan takdir? Akankah angan cintaku tercapai?” gumamnya dalam hati. Berkali-kali pemuda itu merasakan kesejukan jiwa. Iya ingin sekali berteriak keras meluapkan kebahagiaan yang melanda.

“Bagaimana menurut kau Rima, dan kau Farid?kalian setuju kan dengan perjodohan ini?” suara ibu Mami membuyarkan lamunan keduanya. Namun Rima  dan Farid tetap diam seribu kata.

“Diam berarti setuju” simpul ibu Yuyun kemudian. Keluarga itu bahagia mendengar kesepakatan kedua putera-puterinya.

☺☻

Dihari yang sama, seusai mata kuliah Dictation , Zaina segera menghampiri ruang Bahasa dan Sastra Indonesia. Gadis itu berdiri didepan pintu ruangan. Ia sedang menunggu seseorang. Berkali-kali diliriknya jam tangan warna kuning yang menghiasi tangannya. Zaina semakin gelisah dan tak sabar atas kemunculan pemuda yang sangat ditunggunya itu.

Sepuluh menit telah berlalu, tepat jam sembilan lewat sepuluh menit pintu kelas Bahasa dan Sastra Indonesia itu terbuka. Pandangan mata Zaina sibuk menerobos dikerumunan mahasiswa yang baru keluar dari balik pintu ruang itu. Ia mencari sesosok pemuda bernama Zaki. Matanya tetap mencari-cari pemuda yang juga keluar dari ruang itu. Syukurlah, tak lama kemudian Zaina mulai tersenyum sumringah tatkala melihat seorang pemuda berkeja coklat tua dengan bawahan celana jeans keluar dari ruang Sastra itu.

“Hei Zaki…” panggil Zaina, suara Zaina membuat Zaki langsung menoleh dan mulai melangkah mendekati Zaina. Jantung Zaina semakin berdegup kencang melihat Zaki menuju kearahnya. Mata Zaki menatap tajam wajah Zaina.

“Eh Zaina…, apa kabar ?” Gadis berbaju hijau dengan bawahan putih itu sedikit tergagap.

“ka.. kabarku baik-baik saja. lukamu sudah sembuh Zak?”

“Ya, seperti yang kau lihat. Oh iya, tumben nih kamu nungguin aku disini, kayaknya ada sesuatu, ada perlu apa ?”

“Kuliahmu sudah selesai Zak ?” Zaina balik bertanya

“Sudah, memang kenapa ?”

“Pulang bareng yuk”

“Bener nih? Loh bukannya rumahmu di Pamekasan, sedangkan rumahku di Sampang”

“Iya tau, aku mau kerumah Nindi di Sampang. Ku pikir karena kita searah, gimana kalau kamu bareng sama aku aja, mendingan kau naik mobilku. Gimana ? setuju nggak?” ucap Zaina seraya tersenyum memandang Zaki. Lumayan, kinu degup jantungnya mulai bisa ia kendalikan.

“Tapi….”

“Ayolah Zak, please….bener kok, aku nggak bermaksud apa-apa. Lagi pula aku bete sendirian. Mau kan?” paksa Zaina merapatkan kedua tangannya dan diletakkan didepan dadanya. Zaki merasa tidak enak hati melihatnya. Mau tidak mau dia harus menuruti ajakan Zaina itu, sekaligus tidak ingin menolak niat baiknya.

Keduanya sudah berada di dalam mobil berwarna merah maroon milik Zaina. Zaki yang duduk di samping Zaina yang sedang mengemudi hanya diam seribu bahasa. Ia tidak mengerti maksud Zaina mengajaknya pulang bersama secara tiba-tiba. Pandangan matanya hanya di lemparkan ke depan. Begitu pun dengan Zaina, gadis itu hanya diam membisu tanpa kata.

Mobil Terios warna merah maroon itu terus melaju membelah kota Pamekasan. Kini mobil itu memasuki kawasan desa Camplong. Setelah melewati pasar Camplong, mobil Zaina terus melaju hingga kawasan Wisata pantai Camplong. Tiba-tiba mobil warna merah maroon itu berhenti di depan plang yang bertuliskan PONDOK WISATA PANTAI CAMPLONG. Selanjutnya belok kiri masuk ke tempat wisata pantai. Zaki kaget melihat kejadian itu. Setelah memarkir mobilnya, Zaina pun keluar dari mobilnya. Di ikuti oleh Zaki.

“Kok kesini sih Zaina? Bukannya ini tempat wisata?” tanya Zaki keheranan. Pemuda itu mengikuti langkah Zaina yang memasuki cafe yang terletak di bagian depan.

“Iya, aku masih laper nih, tadi pagi belum sarapan. Kita makan dulu yuk. Kamu nggak terburu-buru khan?”

“Oh…nggak juga” sahut Zaki. Zaina duduk di meja nomor empat. Setelah itu, seorang pelayan menghampiri mereka berdua.

“Ini buku menunya mbak..” kata pelayan itu sembari menyodorkan buku menu. Zaina memandangi satu-persatu menu yang tersedia.

“Hm…saya pesan nasi ikan bsksr, dan es jeruknya ya” ucapnya sembari menyodorkan buku menu pada Zaki.

“Kalau kau mau pesan apa Zak? Tenang deh, aku yang traktir” tambah gadis itu. Zaki hanya melihat buku menu itu sekilas. Tampak pemuda itu bingung mau memilih yang mana.

“Aku rujak cingur aja deh” ucap Zaki kemudian. diletakkannya buku menu itu diatas meja.

“Minumnya apa Zak?” tanya Zaina lagi.

“Es jeruk aja” Sahut pemuda itu pelan. Sang pelayan mencatat pesanan kedua tamunya itu. Kemudian pergi menjauhi zaki dan Zaina.

Selang lima menit kemudian, pesanan Zaina dan Zaki pun telah tiba. Keduanya makan tanpa ada sesuatu perbincangan. Zaina memang terlihat lapar itu jelas terlihat ketika menikmati nasi dengan ikan bakarnya. Begitu juga Zaki dengan tenang dan malu-malu menyantap sepiring Rujak Cingur itu. Setelah selesai makan, keduanya keluar cafe itu.

“Huah…udah kenyang nih Zak, oh iya, kita duduk di dekat pantai sejenak yuk,” ajak Zaina. Zaki merasa tidak enak.

“Katanya mau ke rumah Nindi?”

“Iya, tapi kita mampir sebentar saja. Ayolah…” Zaina yang seceria itu mencoba memaksa sembari menarik tangan Zaki. Zaki menuruti saja kemauan Zaina untuk melihat panorama pantai Camplong barang beberapa menit siang itu.

Kedua insan itu duduk di pantai bagian barat, di bawah pohon pandan. Begitu rindang nan sejuk. Zaina dan Zaki bagaikan dua insan yang sedang di mabuk asmara. Mata keduanya memandang panorama laut, jauh menembus batas cakrawala. Di desa Camplong memang ada wisata pantai. Objek wisata yang satu ini di harapkan dapat mengangkat nama kota  Sampang. Selain panorama pantainya yang indah, pantai Camplong itu masih sangat asri dengan dihuni para nelayan.

Suasana pantai yang tenang memang tepat untuk dijadikan tempat liburan, apalagi untuk menyegarkan kembali aktivitas otak dari kepenatan. Zaina dan Zaki tetap duduk berselonjor menghadap pantai. Laut yang tenang dan semilir angin membuat keduanya terlena akan suasana siang itu.

“Zak, boleh aku cerita sesuatu sama kamu?” kata Zaina mengawali percakapan.

“Apa? boleh kok” jawab Zaki sembari melirik Zaina. Zaina menunduk sejenak. Tangan kanannya memegang sepotong lidi sembari mencolek-colek pasir pantai.

“Dulu, masa kecilku sungguh bahagia Zak, masa-masa sekolah dasar membuatku mempunyai banyak pengalaman karena aku di kelilingi sahabat-sahabat kecilku. Dan sungguh aku sangat merindukan masa-masa itu. Ada satu kejadian yang nggak bisa aku lupakan” jelas Zaina. Zaki yang duduk di samping gadis itu hanya terdiam mendengar penuturan Zaina.

“Waktu itu, usai pulang sekolah, aku dan sahabatku sedang berkumpul di pematang sawah. Kami hendak mengerjakan tugas dari sekolah. Aku memang nggak minta izin telebih dahulu sama bunda”

Zaki menatap tenag wajah Zaina. Memandang gerak gerik bibir gadis yang sedang bercerita itu.

“Hingga sore hari aku belum juga pulang ke rumah. Bunda bingung mencari-cari keberadaanku. Setelah berkeliling kesana kemari ternyata nggak ketemu, bunda pun terpaksa pulang kerumah dengan kesal.”

“Terus bagaimana…?” tanya zaki.

“Aku pulang kerumah. Tiba-tiba, bunda langsung memukulku tanpa ampun. Beliau memarahiku karena pergi tanpa izin. Kala itu aku menagis tersedu-sedu Zak. Kemudian, sahabatku datang. Dia mencoba membelaku dengan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, bunda tersentak mendengar penjelasan sahabatku itu”

“Dengan rasa penuh kasih sayang, bunda langsung memelukku. Bertubi-tubi ciuman mendarat ke keningku dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.” Kata zaina sembari menundukkan kepalanya. Pemuda di sebelahnya hanya tertegun memandangi wajah zaina yang tampak sendu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Zaki. Hanya suara napas yang tampak berbisik. Tak lama kemudian, Zaina mendongakkan kepalanya, dan sekilas melirik wajah Zaki. Kedua pandangan mereka pun bertemu. Sejurus kemudian, Zaina kembali memandang ke arah pantai, melihat desiran ombak sembari berkata.

“Tahu nggak siapa sahabat kecilku yang sangat aku kagumi itu ?”

“Memangnya siapa Zaina ?” suara Zaki tampak sedikit serak

“Dia sekarang tak jauh kok dari aku. Dia sekarang berada disisiku Zak? Tahukah kau ?” Zaki terheran-heran mendengar perkataan Zaina. Ia tak mengerti sepenuhnya.

“Dia bernama Ijak, lengkapnya Zaki Fauroni. Ya, ia adalah Zaki Fauroni anak ibu Latifah” Seru Zaina dengan tatapan mata kearah Zaki.

Mendengar kata terakhir Zaina, Zakipun tersentak kaget, pemuda itu tak percaya akan kata-kata yang dilontarkan Zaina.

“Apa !! benarkah?! jadi… jadi… kau adalah Laily ?” suara Zaki seakan tersendat-sendat. Dengan gerak pelan namun pasti, Zaina menganggukkan kepalanya. Mata gadis itu terpejam, tampak setetes air membasahi pipinya. Zaki yang berada didekat gadis itupun tak tau apa yang harus diperbuatnya. Keduanya diam beberapa saat. Tak ada suara apapun. Sunyi. Semuanya seakan tercengang mendengar kata-kata Zaina. Namun, kini Zaina mencoba membuka kembali kedua matanya dan melihat jam tangannya. Gadis itu mulai mengeluarkan kata memecahkan keheningan disekitar pantai.

“Zak, kita pulang yuk, jam menunjukkan pukul sebelas siang nih. Bukankah kau harus pulang karena sebentar lagi waktunya shalat jumat?” seru Zaina sambil melangkah menjauhi pantai. Zaki yang sedari tadi diam tanpa kata karena tak percaya hanya bisa mengikuti langkah Zaina dari belakang.

Langkah pun terasa ringan sehingga tak terasa Zaki dan Zaina telah sampai ditempat parkir mobil. Keduanya hanya bisa tersenyum tipis seakan-akan baru berkenalan

“Zak, kamu mau diantar sampai rumah ?” tanya Zaina memecahkan keheningan.

“Bagaimana kau tau bahwa aku sahabatmu? Kau tahu dari siapa?”

“Ada deh…gimana, kau mau diantar sampai rumahmu?”

“Hm… nggak usahlah. Biar aku langsung mampir kemasjid Al Kharamain saja”

“Loh kenapa Zak?”

“Nggak apa-apa, supaya nggak bolak-balik aja. Lagipula aku mau sholat disana”Zaki sedikit gugup

“Oh begitu ?” Lirih sambil menyalakan mesin.

Terios warna merah maroon itupun mulai melaju meniti jalan. Selama perjalanan, Zaki hanya diam membisu, sedikit malu-malu. Tampak terlihat pepohonan dipinggir jalan berkejar-kejaran ke arah belakang menandakan laju mobil itu begitu cepat. Pohon itu seakan berlari kegirangan menyambut dan mempersilahkan mobil yang ditumpangi Zaki dan Zaina itu untuk melewati jalan yang telah disiapkan.

****

Chapter 8 : Kenangan Jalan Manggis

April 8th, 2010 10:50

Kenangan Jalan Manggis

Oleh : Aswary Agansya


Hari ini hari minggu tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, acara perkemahan bakti sosial di resmikan telah selesai. seluruh anggota tim tiap jurusan diharapkan berkemas. Tepat pukul sembilan pagi seluruh peserta perkemahan akan pulang meninggalkan desa yang indah ini. dengan segera mereka membereskan alat – alat perkemahannya dengan antusias sekali.

Satu setengah jam kemudian. Barang-barang telah di naikkan ke dalam truk angkutan. Seluruh mahasiswa berpamitan kepada pak Hasyim selaku kepala desa Rapa Laok Kecamatan Omben itu. rasa harus menyelimuti seluruh masyarakat yang hadir menyaksikan tunas-tunas bangsa yang hendak kembali ke rumah masing – masing.

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melambaikan tangan tanda perpisahan kepada warga sekitarnya, meskipun hanya dua hari di desa Omben itu. namun keakraban pun telah tercipta, rasa persaudaraan dan solidaritas telah terjalin diantara mereka. Angkutan demi angkutan mulai melaju meninggalkan desa yang indah dan sejuk itu. Terakhir honda jazz warna hijau milik Nindi itu melaju pelan meninggalkan desa. Seperti waktu keberangkatan, Zaina, Fauzy serta farid berada di dalam mobil mewah itu. mereka berempat tak langsung pulang melainkan bermaksud mengunjungi seorang teman bernama Zaki Fauroni.

”Eh, siapa yang tau rumah Zaki ?” tanya Nindi, pandangannya tetap terfokus kedepan. Fauzy yang duduk dijok belakang bersama Farid menjawab pertanyaan itu sembari mengacungkan tangan.

“Aku tau, kami sama – sama dari kota Sampang. Apalagi kami dulu teman satu SMA loh…….”

“Oh ya?” sela Zaina memandang Fauzy. Hati Fauzy lumayang berdesir-desir dipandang begitu oleh Zaina.

“Terus alamat Zaki dimana?” tambah Nindi kemudian

“Rumahnya berada di jalan, Manggis No.65 depan lapangan Wijaya Kusuma Sampang. kau tau kan Nin?”

“Iya..iya aku tau. rumahku kan dijalan diponogoro”

“Oh iya Fauzy, kalau rumah kamu dimana? Kapan-kapan main kerumah kamu yuk!!”

“Rumahku?hehehe ada deh….. nanti kalian juga tau…..”

“Hm….. pelit !” jawab Nindi dan Zaina serempak, keduanya melirik kearah pemuda dibelakangnya Farid tersenyum menimpali.

“Eh gimana cerita kegiatan kemarin?” tanya Fauzy mengalihkan pembicaraanya.

“Kegiatan yang mana?” Nindi balik bertanya.

“Itu waktu pembagian sembako, seru nggak?”

“Aduh zy….. kemarin aku sungguh terharu banget.”

“Kok bisa?” Fauzy penasaran.

Ditatapnya gadis yang sedang menyetir itu. lalu bibir  Zaina mencoba menceritakan suatu kejadian yang mengharukan kemarin. Rasa haru juga melintas dalam hati Fauzy dan Farid seolah-olah merasakan apa yang dirasakan ibu Nurul itu di saat itu. Sesaat suasana menjadi hening.

Waktu terus berlalu, keempat mahasiswa mengendarai honda jazz hijau itu telah sampai di monumen kota Sampang lalu belok kanan kea rah jalan Bahagia. Setelah itu mereka melintasi terminal kota sampang,

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Terik matahari membuat suasana begitu gerah. Mobil Nindi itu melintasi sisi utara terminal, namun lalu lintas sedikit macet. Banyak orang berkerumun. Bukan hanya Nindi yang kebingungan. Zaina, Fauzy dan Farid juga merasakan hal yang sama. Fauzy mencoba meebuka jendela mobil disisinya. Kebetulan ada seorang lelaki berpaakaian merah tua melintas di samping mobil itu. Fauzy melongokan kepalanya mencoba bertanya kepada lelaki itu.

“Pak, maaf mau tanya, ini kokmacet, memangnya ada apa ya?” sembari menunjuk kearah kerumunan orang.

“Oh itu…. ada penjual gorengan di serempet bus” jawab lelaki itu sembari berlalu. Fauzy kembali memasukkan kepalanya ke dalam mobil.

“Ada apa Zy?” tanya Nindi menoleh kebelakang.

“Entahlah, katanya sih ada pemuda penjual gorengan diserempet bus” jawabnya enteng. Nindi dan Zaina pun mengangguk-anggukan kepalanya pelan. sejenak Fauzy teringat sesuatu, tiba-tiba dia langsung membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa lalu lari menuju arah karamaian orang itu.

“Fauzy! mau kemana kau?” teriak Nindi melongokan kepalanya dari jendela. namun Fauzy tak menghiraukan Nindi.

Fauzy semakin mendekat di kerumunan orang itu. Pemuda itu menyusup diantara puluhan orang-orang dengan susah payah berharap mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, ternyata Fauzy bisa juga menembus dari kerumunan para pemuda itu.

Seorang pemuda tergeletak tak sadarkan diri, didekatnya terdapat keranjang yang terbalik dengan beberapa gorengan berhamburan dijalan..

Fauzy memicingkan kedua matanya untuk memperjelas pandangannya. sepertinya ia kenal dengan wajah pemuda yang tergeletak itu. Tiba-tiba Fauzy terperanjat memandang siapa seseorang yang tergeletak itu. Dia kaget tak percaya akan semua itu tatkala yang ia lihat adalah Zaki Fauroni, sahabatnya. Fauzy langsung menghampiri Zaki, ia mencoba mangangkat tubuh Zaki yang tergeletak lemah tangan dan kaki terluka parah dan berdarah.

“Tolongin dong!!! tolongin pak!!! ini teman saya!” teriak Fauzy sekeras-kerasnya minta pertolongan. Ia terus meronta minta tolong. Untung saja beberapa pemuda sudi membantu fauzy mengangkat Zaki.

“Ayo pak tolong angkatkan kemobil hijau itu. Tolong…” tambah Fauzy sembari menunjuk ke arah Honda jazz milik Nindi.

Nindi dan kawan-kawan yang lain pun pada panik melihat fauzy tergesa – gesa menuju kearahnya. Nindi, Zaina serta farid pun keluar dari mobil itu

“Ada apa Zy? Siapa itu?” tanya Farid panik.

“Z…..Za….Zak…Zaki !!” Fauzy tergagap. napasnya tidak teratur.

“Subhanallah…Zaki? Ada apa dengan dia?” tambah farid memegang pundak Fauzy

“Itu……Zak…. Zaki kecelakaan !!”

“Apa?!!!” teriak Nindi, Farid dan Zaina serempak. mata mereka tertuju kepada segerombolan orang yang sedanng membopong seseorang.

“Tolong masukkan kesini pak!”teriak Fauzy mengarahkan, membukakan pintu jok belakang mobil Nindi itu. Zaki yang sedikit sadar itu berencana akan dibawa ke rumah sakit, namun pemuda itu menolak rencana para teman-temannya..

“Ayo kita bawa ke rumah sakit” teriak Nindi sambil menyalakan mesinnya

“Jangan! jangan dibawa kerumah sakit, aku nggak mau merepotkan kalian. Lebih baik bawa saja ke rumah” suara Zaki parau sembari menahan rasa sakitnya.

“Tapi Zak, lukamu harus diobati.lagi pula kami nggak merasa di repotkan tuh.” tambah Nindi

“Biarlah ! nggak usah! Cuma lecet aja kok. sudah bawa pulang saja” bantah Zaki.

“Tapi…..”

“Kalau kalian ingin menolongku, bawalah aku ke rumah. tapi kalau nggak, lebih baik aku….”

“Iya iya. Aku mengerti. Oke deh kami bawa kau langsung ke rumahmu” sela Nindi memotong pembicaraan Zaki. Honda jazz itupun terus melaju dari jalan Imam Ghozali terus ke arah barat. Dan belok kanan di jalan Kramat. Setelah itu, kira – kira satu kilometer mereka belok kanan  lagi memasuki kawasan lapangan wijaya kusuma dan belok kiri menuju jalan manggis.

Setelah memasuki jalan manggis, Nindi pun memperlambat laju mobilnya karena memasuki suatu area perkampungan. Zaina yang duduk di sebelah Nindi, teringat akan sesuatu. Pikirannya terus memutar mencoba menerka-nerka sesuatu itu namun tak juga menemukan jawabannya.

“Eh.. kayaknya aku pernah kesini deh.” tapi kapan ya? ucapnya memandang ke arah rumah-rumah warga sekitar.

“Ke sini? Memangnya kapan? ” tanya Nindi agak penasaran.

“Tau, aku lupa tuh, tapi benar deh, sepertinya aku pernah kesini”

“E… e…. didepan blok kiri, disitu rumah Zaki” seru Fauzy tiba-tiba.

Mobil itu diparkir dihalaman rumah yang sangat luas. Zaki berjalan dipapah Farid dan Fauzy menuju pintu rumahnya.

Ibu Latifa berdiri didepan pintu, wanita setengah baya itu terkesiap memandang segerombolan pemuda dan pemudi turun dari sebuah mobil mewah di halaman rumahnya. Betapa terkejutnya ibu Latifa ketika Zaki keluar di bopong para teman-temannya. Kaki Zaki tampak berdarah, Ibu Latifa langsung berlari mendekati anaknya itu. Air matanya langsung berhamburan.

“Ada apa ini ?! kenapa kamu Zaki?! Ada apa?!” tanya ibu Latifa kaget, cemas dengan pikiran kacau tak mengerti. Ia menangis.

“Zaki Cuma lecet biasa kok bu” ucap Zaki mencoba menenangkan ibunya.

“Iya kok bisa begitu?!” tanya ibu latifa lagi sambil merengkuh Zaki. namun tak ada jawaban. Zaki memasuki rumahnya dan dibaringkan dikamarnya. Fauzy dan Farid membantu membaringkan Zaki ditempat tidurnya. ibu latifa pergi kedapurnya untuk mengambil air hangat.

Sementara diluar rumah Zaki tepatnya dihalaman yang luas itu Zaina berdiri terpaku menatap ke segala penjuru arah, ditebarkannya pandangan matanya  ke sekelilingnya. Pikirannya berjalan, ia merasa pernah kerumah itu, tetapi ia tidak tau pasti kapan kejadiannya. Pikirannya terus berputar hendak mengingatkan sesuatu tiba-tiba Zaina kaget, Nindi memanggil dan membuyarkan lamunannya.

“Zaina! ngapain kamu berdiri mematung disitu.? buruan sini” teriak Nindi.

“E…I…Iya !!” gadis itu terperanjat dan tergagap. Seketika itu pikirannya bubar, dia berlari menghampiri Nindi.

Didalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu Zaki terbaring lemas diatas tempat tidurnya. Fauzy dan Farid duduk disamping Zaki sedangkan Nindi dan Zaina duduk dikursi yang disediakan oleh ibu Latifa didekat tempat tidur itu.

Ibu Latifa masuk kekamar Zaki membawa sebaskom air hangat serta handuk. wanita setengah baya itu mencoba membasuh dan mengusap luka dibetis Zaki.

“Sini bu, biar saya yang mengerjakan. ibu duduk saja dikursi ini” ucap Zaina menawarkan diri, namun ibu latifa menolak.

“Biar ibu saja nak, ibu tak apa-apa.”lirih ibu Latifa. lalu wanita setengah baya itu kembali memandang wajah Zaki yang sedang manahan rasa sakit. Zaina pun kembali duduk di kursinya.

“Bagaimana ceritanya kok sampai seperti ini Zak? kamu ini ada-ada saja !” tanya ibu Latifa semua teman Zaki menatap ke arahnya, mereka berharap Zaki menceritakan kejadian itu. Terpaksa, dengan tertatih, Zaki mencoba bercerita.

“Wa….. waktu itu aku sedang berkeliling didekat plang lampu merah yang kebetulan bebagai kendaraan sedang berhenti. Aku bermaksud menjajakan gorengan disebuah mini bus, seorang kenek mini bus warna hitam memanggilku hendak membeli pisang goreng dan ubi goreng. aku pun menghampirinya.” Zaki mulai bercerita. Ceritanya terhenti sejenak ketika Nisa, adik Zaki tiba – tiba memasuki kamar Zaki sambil membawa nampan berisi empat gelas teh dingin, dengan menyungging senyum. Nisa memindahkan gelas demi gelas teh dari nampan putih itu ke atas meja dengan pelan dan anggun.

“Diminum dulu tehnya kak” ucap Nisa lalu berbalik dan keluar kamar Zaki..

“Iya deh, terimakasih” sahut Nindi membalas senyuman Nisa yang masih belia. kemudian mereka kembali memandang Zaki. Pemuda yang sedang berbaring itu melanjutkan ceritanya.

“Ketika aku menghampiri, kenek itu meminta dibungkuskan tiga biji pisang goreng dan dua biji ubi goreng. Aku mencoba mengbungkus gorengan sesuai yang diminta, tetapi tiba – tiba setelah bungkusan itu diterimanya, lampu merah berubah warna hijau, kendaraan mulai berangkat satu demi satu”

“Mini bus warna hitam itu juga mulai melaju. Aku kaget melihatnya dan mencoba mengejar mini bus itu sekuat tenaga karena sang kenek belum juga membayar. usahaku mengejar mini bus itu pun sia-sia. Aku merasa sedih dan berdiri mematung ditengah jalan. Selanjutnya dari arah belakang ada mini bus warna merah maron melaju dengan cepat dan akhirnya menyerempetku”

“Aku pun terpelanting kesisi jalan dekat trotoar. tubuhku terguling-guling dan keranjang gorenganku terpental jauh sehingga daganganku berserakan dan aku pun tak sadarkan diri” jelas Zaki dengan meneteskan air mata.

“Maafkan aku ibu, Hari ini kita rugi, gorengan itu jauth berserakan” tambah Zaki seraya memejamkan matanya. Tetes demi tetes air matanya jatuh nenbasahi pipinya.

“Tidak usah kau pikirkan Zak, yang penting sekarang kau selamat” ibu Latifa dengan senyuman. Dielus-elusnya kepala Zaki dan dicium kening puteranya itu penuh kasih sayang. Melihat kejadian itu mata Fauzy, Farid, Zaina dan Nindi mulai berkaca- kaca, bulu kuduk mereka seakan berdiri. Mereka merembeskan air mata dengan rasa haru singgah dibenak mereka.

Sepuluh menit kemudian, Nindi dan Zaina mohon izin untuk pulang disusul oleh Farid dan Fauzy kali ini Farid tidak pulang bersama Nindi, namun pemuda itu mampir kerumah Fauzy dikampung Madegan. Zaina yang disepanjang perjalanan terheran-heran mengingat kejadian dirumah Zaki.

Sesampainya dirumah yang cukup sederhana tepatnya dijalan Veteran no 52 Kota Pamekasan, Zaina menemui bundanya yang sedang duduk disofa ruang tengah. ibu Muzayana yang sedang asyik.menyaksikan acara kesayangannya disalah satu stasiun televisi. Tiba – tiba Zaina menghampiri ibu Muzayana yang sedang duduk asik itu.

“Bunda…” teriak Zaina menghampiri ibu Muzayana. sang bunda pun menoleh ke arah gadis itu. Zaina duduk disamping ibu Muzayana.

“Eh sudah pulang rupanya. Bagaimana acara perkemahannya Zaina?” tukas ibu Muzayana seraya kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi.

“Ah… badanku terasa pegal-pegal nih bunda, seru banget deh bunda. acaranya sungguh bermanfaat bagi kami, Bayangikan saja, aku sampai nangis lantaran terharu melihat salah seorang warga yang kelaparan.

“Oh ya?” sahut ibu Muzayana seakan tak percaya. Zaina terus berantusias menceritakan ceritanya secara runtut. sang bunda pun mengangguk – angguk pelan mendengar cerita anaknya.

“Eh bunda bunda, aku tadi siang merasakan hal yang aneh deh, ketika aku berada disampang“ kata zaina tiba–tiba. Gadis itu semakin mendekat kesisi sang bunda. Ibu Muzayana memandang wajah puterinya dengan rasa penuh kasih sayang.

“Aneh bagaimana ?” tanya ibu Muzayana. Lalu wanita setengah baya itu mengambil remotenya dan memencet tombol merah, mematikan telivisinya. wanita itu kembali memandang kearah zaina.

“Begini bunda, waktu itu aku mau pulang dari desa Omben bersama Nindi, kami hendak mengunjungi rumah teman di Sampang. Setelah melewati terminal, kami menemukan temanku itu dalam keadaan kecelakaan”

“Ya terus bagaimana?”

“Terus temanku itu kami bawa pulang kerumahnya dijalan manggis, kota Sampang, anehnya setelah sampai dirumah temanku itu, aku merasakan hal-hal aneh. aku merasa pernah sampai kejalan manggis itu deh Bunda. tapi entah kenapa aku nggak mengingat kapan kejadiannya kayak dejavu gitu deh bun”

“Hm… jalan manggis dekat lapangan Wijaya Kusuma itu?” ibu muzayanah mencoba bertanya.

“Iya. kok bunda tau sih?”

“Memangnya nomor rumah temen kamu itu berapa ?” tanya ibu Muzayana lagi. Zaina yang duduk di samping sang bunda itu memikirkan sesuatu. Gadis itu mencoba mengingat berapa nomor rumah Zaki. Zaina mengerutkan dahinya sejenak. matanya dilirikkan kesamping, bibir tipisnya dimonyongkan kesamping kiri. Gadis itu mencoba memutar otaknya demi mengingat nomor itu.

“Hm… berapa ya? oh iya aku tau!! Rumah Zaki itu jalan manggis no 65, didepan lapangan wijaya kusuma. ya, aku sudah ingat bunda” ucap Zaina dengan antusias. ibu muzayyana menganggukkan kepalanya. Wanita setengah baya itu menyungging senyum mendengar penuturan anaknya.

“Kok bunda malah tersenyum sih?” Zaina heran melihat wajah sang bundanya.

“Oh… jadi temen kamu namanya Zaki? terus siapa nama orang tua zaki itu? Kamu tau nggak ?”

“Kok bunda malah bertanya begitu sih?kayak wartawan aja. Aneh deh! ibunya Zaki tu bernama ibu Latifa” mendengar nama itu ibu muzayyana semakin tersenyum tipis. Zaina yang sejak tadi kebingungan malah ditambah rasa aneh melihat bundanya.

“Hm…begini Zaina, dulu sewaktu kamu kelas satu sekolah dasar, Ayah ditugaskan dinas di kota Sampang. Ketika itu kami sempat mengontrak rumah dijalan manggis selama dua tahun. Sewaktu kau masih sekolah di SDN Gunung sekar VI, kamu mempunyai seorang sahabat“ kata ibu Muzayana seraya membetulkan letak duduknya.

“Loh bunda malah cerita.? iya, aku tau sahabat keciku itu namanya ijak kan bunda?” tukas Zaina sedikit kesal.

“Tunggu dulu. dengerin cerita bunda dulu dong sayang,” tukas ibu muzayyana.

“Oke-oke.” ucap zaina bersabar.

“Nah betul katamu tadi, nama sahabatmu itu ijak. kamu ingat nggak sewaktu kamu masih kecil dan dipukul bunda karena asyik bermain bersama ijak itu?”

“Aku sedikit lupa tuh bunda, memangnya kenapa?” tanya Zaina sambil melongo.

“Sore itu bunda sibuk mencari-cari kamu. waktu itu bunda cemas sekali karena semenjak pulang sekolah, kamu asyik bermain bersama ijak bunda bingung da khawatir, bunda mencarimu kerumah izak, namun kau tak ada disana, bunda juga mencari kerumah temen kamu yang lain namun tetapsaja kamu tidak ditemukan”

“Bunda kesal sekali, terpaksa bunda pulang hendak menunggumu dirumah saja. Tiba-tiba sesampainya dirumah, ternyata kamu berada diruang tamu sedang asik bermain boneka. Bunda sangat marah sama kamu. Lalu bunda memukulmu. Kamu yang sedang menangis tersedu bertanya apa yang sebenarnya terjadi”

“Bunda terus memukulmu, tiba-tiba ijak datang dan mencoba membelamu. Dia bertanya apa salahmu serta dia mencoba menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi sama bunda. Mendengar penjelasan ijak, bunda tersadar dan segera memandangmu. bunda tak habis pikir kenapa gegabah memukulmu, tak memberimu kesempatan untuk bercerita. Ternyata kamu sedang mengerjakan tugas sekolah dipematang sawah belakang rumah bu Safi. Semenjak kejadian itu bunda tak tega lagi memukulmu Zaina. bunda langsung menciummu dengan penuh rasa sayang” ucap ibu Muzayana mengenang kejadian itu.

“Itu kan kenakalan masa kecilku bunda. Maafkan aku ya bunda” kata Zaina sembari memegang tangan bundanya.

“Kamu tahu siapa ijak itu Zaina? Ijak itu, teman kuliahmu. Ijak teman yang kalian tolong sewaktu kecelakaan diterminal tadi siang”. mendengar ucapan sang bunda, Zaina tercengang. Jantungnya seakan-akan berhenti berdetak sejenak. Gadis itu memandang sang bunda dengan rasa tak percaya. Duduknya semakin mendekat disisi ibu Muzayana.

“Apa bunda? Zaki itu Ijak?” teriak Zaina tak percaya. Ibu muzayyana mengangguk pelan.

Hati Zaina terasa sejuk setelah mengetahui sebenarnya. Gadis itu seakan-akan memperoleh titik-titik kesegaran . Di dalam penantiannya selama ini. Zaina mulai terbayang wajah lugu nan imut si Zaki Fauroni. Angannya melayang-layang tinggi keangkasa. Dia ingin segera kembali menemui pemuda itu.

“Hayo ada apa…?” ibu Muzayyana menepuk tangan Zaina menyadarkan. zaina pun tersentak dari lamunannya yang seketika itupun hilang.

“Loh kok tanganmu panas, kamu nggak apa-apa? sepertinya kamu demam sayang…” kata ibu Muzayana sembari menempelkan tangannya kekening Zaina.

“Nggak kok bunda, aku cuma pegal-pegal aja. Mungkin kecapean aja. oke, aku istirahat dulu ya bunda” sergah Zaina lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.

Sesampainya dikamar, gadis itu mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa letih, tulangnya terasa pegal-pegal di tempat tidurnya.

Namun meski demikian, hatinya terasa berbunga-bunga setelah mendengar kabar dari bundanya bahwa sahabat kecil yang sering ia panggil Ijak itu adalah Zaki Fauroni, Ijak yang telah hilang kini telah kembali.

“Benarkah itu?”

Zaina bangun dan duduk disisi tempat tidur. Dengan tubuh terasa letih dan sedikit demam, gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, diambilnya sebuah buku diary miliknya, dihalaman pertama terpampang sebuah foto yang bergambarkan sepasang anak kecil memakai pakaian adat khas pulau Madura. Sepertinya foto itu diambil ketika mereka sedang mengikuti karnaval. ya, kedua bocah difoto itu adalah Zaki kecil dan Zaina kecil.

Buku diary itupun dibawanya ke tempat tidur, Zaina kembali merebahkan tubuhnya. Dipandangnya foto itu lekat-lekat, tanpa di sengaja wajah Zaki berkelebat di pikiranna, sesosok pemuda yang penuh semangat bekerja keliling terminal menjajakan gorengan demi melanjutkan pendidikannya. Zaki menjalani semua itu dengan tanpa beban. Zaina merasa terharu pada pemuda itu.

Bayangan Zaki terus berkelebat, terus, terus dan terus singah di memori otaknya. tak lama kemudian, gadis itu terlena dalam tidur siangnya.

****